Sunday, October 14, 2012

Dua hatipun menyatu


Pemandangan pagi ini indah seindah matahari yang tersenyum malu menatapku. Pagi itu seperti biasa aku berangkat dari rumah dengan kekasih tercinta. kedek---kedek-----kedek--- begitu suara motor yang kami kenderai. 
Sesampainya kami di perberhentian. pemandangan menakjubkan memenuhi ruang fikiranku. Sekilas dilihat tidak ada yang luar biasa. Ada seorang anak yang diantar ayahnya ke sekolah. setelah turun dari motor anak tersebut tidak langsung lari seperti anak lainnya. anak itu terlebih dahulu bergelayut mesra di paha ayahnya. sang ayah membisikkan sesuatu yang kuterka sebagai kata-kata motivasi agar si anak baik2 di sekolah. akantetapi tidak kuduga anak itu belum juga ingin meninggalkan gelayut mesranya. sang ayah mengusap kepalanya pelan. rasa kasih sayang yang dipancarkan ayahnya sampai pada ubun-ubun kepalaku. setelah itu mereka seperti "cas", sang ayah menyodorkan tangan kanannya yang disambut tangan kanan anaknya tapi bukan bentuk salaman, bentuk lebih seperti seorang sahabat yang ingin berpisah dengan sahabatnya, tidak ada beban kala itu, sang anak membalas tangan ayahnya dengan semangat, dan dengan senyum sumringah ia meninggalkan ayahnya.
Pemandangan ayah mengantar anak ke sekolah biasa kulihat. Namun pemandangan ayah yang bukan sekedar pengantar tapi diartikan sebagai sahabat dan motivator oleh anaknya itu jarang. Seringkali tugas diskusi dan ngobrol dengan anak adalah tugas ibu, padahal ketika obrolan mengalir dari ayah dan ibu walau dengan tema yang sama itu tetap ditangkap berbeda oleh anak. Ayah lebih bisa menekankan ketegasan dalam sikapnya sementara ibu banyak rasa kasihannya. Ayah lebih mengajarkan kekuatan pada anak bagaimana menghadapi suatu masalah sementara ibu terkadang menularkan rasa gusar dan khawatir ketika anak menghadapi masalah.


di sudut office
di deru kehangatan cinta dan kasih sayang ayah 
I LOVE U DAD.



No comments:

Post a Comment