Kecendrungan Kecemasan lansia yang ditinggal pasangannya (Widowhood)
A.Latar Belakang
Ketika suami atau istri meninggal,pasangan yang masih hidup mempunyai masa berdukacita atau bersedih hati,banyak penelitian menyebutnya proses berbela sungkawa janda atau duda di tahun pertama setelah meninggal nya pasangan hidupnya. Menurut data sebelumnya mengindikasikan bahwa janda atau duda skalanya 6:1, setelah setahun banyak individu mulai menerima kehilangan suami atau istri dan menyesuaikan diri dengan alasan yang baik. Wanita sepertinya lebih mudah menyesuaikan diri dari laki-laki mengenai kehilangan pasangan hidup dan orang yang lebih tua(dewasa) lebih mudah beradaptasi dari pada orang yang masih muda.Wanita barangkali lebih baik menanggulangi stress sejak mereka biasa mengatur tugas keseharian yang diminta di rumah,biasanya wanita mempunyai teman yang sangat dekat untuk membantunya membangkitkan semangatnya dan sepertinya dapat setuju dengan menggunakan waktu yang sendiri (Rybash, W. John., Roodin, A. Paul., Santrock, W.John., (1991), Adult Development & Aging, C.Brown Publishers).
Para ahli gerontology telah memberikan perhatian yang lebih terhadap masalah-masalah depsresi dibandingkan dengan masalah kecemasan pada orang-orang dewasa lanjut,namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa orang usia lanjut usia sebenarnya memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan-gangguan kecemasan daripada depresi,diperkirakan sekitar 7 % dari orang-orang dewasa lanjut memiliki gangguan-gangguan kecemasan (Santrock, W.John., (1995), Life Span Development, Alih bahasa Chusairi, Achmad., Penerbit Erlangga, Jakarta).
Paper ini terfokus pada permasalahan yang tidak bisa dihindari seseorang pada masa tuanya, yaitu kehilangan pasangan hidup.Pasangan hidup menjadi sumber hubungan sosial yang tidak tergantikan, afeksi, rasa pertemanan, serta rasa aman dan nyaman (Atchley, 1985). Kehilangan pasangan hidup membawa perubahan besar dalam peran dan struktur hidup lansia. Kehilangan pasangan hidup merupakan life event yang menjadi stressor kuat bagi lansia. Stress yang dialami oleh seseorang akan menimbulkan kecemasan.( http://lib.atmajaya.ac.id ) Materi ajar Psikogerontology Universitas Atmajaya diakses tanggal 12 Oktober 2009
B.Defenisi Kecemasan
Gangguan kecemasan menyeluruh ditandai dengan perasaan cemas yang persisten yang tidak dipicu oleh suatu objek,situasi,atau aktifitas yang spesifik.
Ciri utama dari gangguan kecemasan menyeluruh:
merasa tegang,
waswas,atau khawatir;
mudah lelah;
mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi kosong;
iribilitas,
ketegangan otot;
adanya gangguan tidur
tidur yang gelisah dan tidak memuaskan
sering ada bersama (comorbid) dengan gangguan lain seperti depresi atau gangguan
kecemasan lainnya seperti agrofobia dan obsesif-kompulsif.
(Nevid, S.Jeffrey., Rathus, A.Spencer., Greene, Beverly., (2005), Psikologi Abnormal, Alih bahasa Tim Fakultas Psikologi Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta)
Gangguan kecemasan adalah gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketegangan motorik dan fikiran serta harapan yang mencemaskan, ketegangan motorik ini ditandai dengan :
gelisah
gemetar
ketidakmampuan untuk rileks
pusing
jantung berdebar-debar’
berkeringat
(Santrock, W.John., (1995) ,Life Span Development, Alih bahasa Chusairi, Achmad., Penerbit Erlangga, Jakarta).
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association pada edisi keempat, criteria gangguan kecemasan(Indicate the general medical condition):
Cemas yang menonjol, serangan panik, atau obsesi atau dorongan yang menonjol pada gambaran klinis
Ada keterangan dari cerita yang melatarbelakanginya, pemeriksaan fisik, atau pemeriksaan laboratorium bahwa ada gangguan fisik akibat kondisi medis secara umum.
Catatan gangguan tidak runut jika didiagnosa dengan DSM.
Gangguan tidak terjadi dalam keadaan tidak sadar.
Penyebab klinis gangguan adalah keadaan sukar atau kerusakan sosial, pekerjaan,atau fungsi area penting lainnya.
C. Contoh Kasus
IBU saya (R), adalah seorang pensiunan guru, usia tujuh puluh tahun. Ia tinggal bersama saya dan suami. Ayah meninggal sepuluh tahun lalu karena serangan jantung.
Sejak beberapa tahun yang lalu, ibu mulai sering mengeluh cemas dan khawatir. Akhir-akhir ini, hampir setiap hari selalu minta ditemani dan tidak mau ditinggal sendiri. Kecemasan dan kegelisahan menjadi semakin hebat bila mendengar ada keluarga atau tetangganya yang sakit atau meninggal.
Ibu mengatakan takut mati dan takut jadi gila. Tingkah lakunya kadang mudah tersinggung dan marah, terutama bila keinginannya tidak segera dipenuhi.
Meskipun demikian, daya ingat ibu masih baik, mampu mengingat semua peristiwa yang baru terjadi dan mengenal dengan baik nama saudara-saudaranya, termasuk cucu kesayangannya. (http://newspaper.pikiran-rakyat.com ) Hasil konsultasi dari dr.Teddy Hidayat, S.p.K.J di rubrik konsultasi online diakses 12 Oktober 2009.
D. Sumber-sumber kecemasan pada Lansia
Kesepian atau loneliness,biasanya dialami oleh seorang lanjut usia pada saat meninggalnya pasangan hidup atau teman dekat ,terutama bila dirinya sendiri saat itu juga mengalami penurunan status kesehatan,misalnya menderita berbagai penyakit fisik berat,gangguan mobilitas atau gangguan sensorik,terutama gangguan pendengaran (Brocklehurst-Allen,1987),kesepian-kesepian ini dapat menimbulkan kecemasan yang mendalam karena biasanya selalu saja ada yang menemani dan nyata nya sekarang orang selalu menemani telah meninggal atau pergi untuk selamanya. (http://www.Fstikeskabmalang.files.wordpress.com ) Proposal Tugas Akhir Maduratri pada Stikes Kabupaten Malang diakses tanggal 12 Oktober 2009
E.Prilaku Kecemasan yang muncul pada lansia
sering mengeluh cemas dan khawatir.
selalu minta ditemani dan tidak mau ditinggal sendiri.
Kecemasan dan kegelisahan menjadi semakin hebat bila mendengar ada keluarga atau tetangganya yang sakit atau meninggal.
Ibu mengatakan takut mati dan takut jadi gila.
Tingkah lakunya kadang mudah tersinggung dan marah, terutama bila keinginannya tidak segera dipenuhi (http://newspaper.pikiran-rakyat.com), Hasil konsultasi dari dr.Teddy Hidayat, S.p.K.J di rubrik konsultasi online diakses 12 Oktober 2009.
F. Review Jurnal Anxiety pada Widowhood yang ditinggal pasangannya
Penelitian ini berfokus pada fakta bahwa kehilangan suami atau teman hidup karena penyakit kronis seperti penderita kanker yang tetap untuk masa yang lama, satu dari trauma psikologi yang terjadi pada saat itu adalah kematian, ini yang menjadikan kecemasan ini berlangsung lama. Masa kesadaran diasosiasikan sangat kuat dengan kecemasan, dan tanda-tanda kecemasan yang lain. Dalam penelitian ini, gabungan atau asosiasi antara masa kesadaran dan resiko kecemasan dan simptom yang berkaitan dengan kecemasan berlangsung 2-4 tahun setelah suaminya meninggal.
Asosiasi antara masa kesadaran dan kecemasan telah disesuaikan pada umur janda atau duda, lamanya status perkawinan, mendapatkan support secara psikologi 6 bulan setelah kehilangan, hubungan emosi, keyakinan agama, tingkat pendidikan. (Valdimarsdottir, Unnur., Helgason, R. Asgeir., Furst, Johan-Cari., Adolfsson, Jan., Steinneck, Gunnar., (2004), Awareness of husband’s impending death from cancer and long-term anxiety in widowhood: a nationwide follow-up, Sage Publications, London)
Daftar Pustaka
Rybash, W. John., Roodin, A. Paul., Santrock, W.John., (1991), Adult Development & Aging, C.Brown Publishers.
Santrock, W.John., (1995), Life Span Development, Alih bahasa Chusairi, Achmad., Penerbit Erlangga, Jakarta.
Nevid, S.Jeffrey., Rathus, A.Spencer., Greene, Beverly., (2005), Psikologi Abnormal, Alih bahasa Tim Fakultas Psikologi Indonesia, Penerbit Erlangga, Jakarta.
http://lib.atmajaya.ac.id, Materi ajar Psikogerontology Universitas Atmajaya diakses tanggal 12 Oktober 2009
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), American Psychiatric Assosiation, Arlington.
http://newspaper.pikiran-rakyat.com, Hasil konsultasi dari dr.Teddy Hidayat, S.p.K.J di rubrik konsultasi online diakses 12 Oktober 2009.
http://www.Fstikeskabmalang.files.wordpress.com , Proposal Tugas Akhir Maduratri pada Stikes Kabupaten Malang diakses tanggal 12 Oktober 2009.
Valdimarsdottir, Unnur., Helgason, R. Asgeir., Furst, Johan-Cari., Adolfsson, Jan., Steinneck, Gunnar., (2004), Awareness of husband’s impending death from cancer and long-term anxiety in widowhood: a nationwide follow-up, Sage Publications, London
No comments:
Post a Comment