Sunday, November 08, 2009

A. Deskripsi kasus

Sekolah menengah pertama “Pink”,adalah salah satu SMP favorite. SMP tersebut menyelenggarakan kelas reguler,Kelas IT,Kelas bertaraf International. Didalam pelaksanaan menemukan kendala antara lain, murid yang protes karena kualitas tidak seperti yang diinginkan, dilain pihak guru mengalami kebingungan bagaimana menghadapi murid yang kritis dan eksklusif, tidak mau saling berinteraksi di antara meraka. Kebanyakan dari mereka diprediksi adalah anak dari orang tua yang berada dimana semua fasilitas tersedia dirumah, dan biasanya tidak pernah bersusah payah dahulu untuk mendapatkan sesuatu,biasanya kemauan mereka selalu ada dan terbiasa dengan hidup sendiri atau biasanya mereka selalu bermain dengan benda mati karena orang tua diprediksi selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada interaksi yang intens antara orang tua dan anak, dan diprediksi pula,jika anak-anak itu mempunyai saudara, dipastikan jarang berinteraksi dengan saudaranya walaupun mereka tinggal serumah,biasanya anak-anak seperti ini dikamarnya selalu lengkap jadi tidak harus duduk bersama saudaranya jika menonton televisi, atau sekedar makan bersama di meja,budaya ini dibangun dari rumah yang dibuat dengan kamar-kamar sendiri dan semua tersedia didalam kamar, memang ada kelebihan disini karena anak tidak perlu susah payah untuk keluar kamar,tapi ada lebih banyak juga kekurangannya,karena anak jadi tidak akan pernah mau tau atau peduli dengan keadaan diluar kamarnya.

B. Poin Penting dari deskripsi kasus

Murid protes bahwa kualitas sekolah tidak seperti yang diinginkan
Murid yang kritis dan eksklusif
Latar belakang keluarga dari rata-rata murid
Kemampuan guru yang kurang dalam menghadapi murid

C. Apa yang harus dilakukan oleh pihak Sekolah?

Cooperative Learning, menurut Dictionary of Psychology yang di terbitkan oleh American Psychological Assosiation adalah belajar dalam grup kecil,masing-masing dari pelajar diharapkan menyumbangkan kemampuan interpersonal dan berinteraksi langsung. Pelajar juga berpartisipasi dalam penilaian proses berjalannya satu grup tersebut. Cooperative learning adalah satu metode yang mengintruksikan masing-masing siswa bekerja bersama dalam grup kecil yang mempunyai tujuan yang sama (Nattiv, Winitzky, Drickey et al 1991). Strategi yang harus dijalan dalam cooperative learning :

Roundtable – guru memberikan pertanyaan dengan beberapa kemungkinan jawaban, tiap siswa bergiliran menulis satu jawaban dalam satu kertas dan satu pena dari satu siswa ke siswa yang lain.

Numbered Heads Together : Guru memberikan sebuah pertanyaan,siswa menundukkan kepala mereka jika mereka mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut,sebelumnya dibuat undian berdasarkan kata kunci dari nama masing-masing siswa,nah setelah mereka semua menunduk menandakan mereka mengetahui jawabannya maka guru memilih salah satu secara acak dari siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Jigsaw : Tiap siswa didalam tim ditugaskan pada bagian berbeda dari bahan yang dipilih dan menunjuk seorang ahli. Siswa yang ditunjuk tadi bertemu anggota dari tim yang lain dengan topik sama. Siswa kembali kedalam tim semula untuk mengajarkan kepada anggota kelompoknya mengenai topik yang telah dibicarakan dalam satu kelompok besar tadi,setiap siswa harus merespon seluruh bagian dari pelajaran.

Pairs check : siswa belajar berpasangan didalam tim, masing-masing pasangan mengambil giliran,satu memecahkan masalah dan satu mengikutinya. Mereka bergantian dan dicek didalam tim .

Three-Step-Interview: siswa belajar dari tiap opini atau ide dalam topik yang diberikan guru, mereka menginterview yang lain dalam satu pasangan,kemudian semua anggota tim bercerita apa yang dapat dia pelajari dari pasangannya.

Think-Pair-Share : Guru memberikan pertanyaan,siswa memikirkan atau menulis jawabannya. Tiap orang mendiskusikan idenya dengan pasangannya. Mereka kamudian membagi ide mereka dalam bentuk kesimpulan dikelas. Mereka perlu meyakinkan bahwa semua anggota tim memahami ide yang akan dibagi di kelas.

Group Investigation: Siswa bekerja dalam tim untuk mempersiapkan presentasi di seluruh kelas.Tiap anggota tim membuat satu kontribusi unik atau menarik sebagai presentasi terakhir.
(Nattiv, Winitzky, Drickey, (1991), Sage Publications, London)

Dasar Pemikiran menggunakan cooperative learning dalam Kasus Sekolah Pink adalah ketika pemuda memasuki masa bekerja,mereka membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi,mereka harus belajar cooperative learning settings. Keterampilannya dari yang sangat sederahana misalnya mendengarkan,menggunakan kontak mata yang tepat, menguraikan kata-kata sampai keterampilan yang lebih kompleks seperti memecahkan masalah. Dalam grup cooperative learning, siswa cenderung belajar materi yang diberikan secara efektif dan mengingatnya dengan baik.

Komponen cooperative learning yang dapat dijalankan; memberikan dasar pemikiran bagi siswa, menjelaskan bagaimana mengerjakan tugas dalam kelompok, bagaimana mendemonstrasikannya, memberikan petunjuk praktis,kemampuan wawancara,.

Membangun tim:awal dari meeratkan siswa-siswa yang eksklusif adalah dengan membuat satu tim,bisa dengan satu kelas,atau beberapa kelas paralel yang sesuai,ketika team building ini dibangun diharapkan komitmen yang telah dibuat bersama dapat dijalankan bersama,begitu juga dengan beberapa tugas dapat dikerjakan bersama dengan terlebih dahulu membangun rasa saling memiliki dan saling menyayangi didalam tim

Pihak sekolah dan guru bekerjasama untuk memberikan reward/penguatan kepada tim yang berprestasi dan tim yang solid.
(Nattiv, Winitzky, Drickey, (1991), Sage Publications, London)

Kekuatan kelompok yang digunakan untuk mengatasi individualis atau hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau bekerja sama ini dapat digambarkan dalam setting pendidikan bahwa cooperative learning sudah seharusnya dimasukkan dalam kurikulum belajar dengan prediksi dapat meningkatkan hasil belajar, karena design pendidikan bukan saja untuk menambah pengetahuan juga menunjukkan identitas dari siswa tersebut, beberapa yang dibutuhkan siswa dalam cooperative learning:

Tempat berjanji

Material dan pengalaman dalam pembentukan identitas siswa

Belajar bekerjasama

Ada nya perjanjian tentang aktivitas yang sama-sama di setujui,ini mengimplikasikan adanya kekuatan dari hubungan guru dan siswa yang sama-sama berjanji untuk
bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing, dalam bebapa waktu guru dapat melihat perubahan prilaku dari tiap-tiap siswanya dari tradisional control grupnya.Indikasi suksesnya dari learning community adalah evaluasi yang tepat terhadap pendekatan partnership;dapat di ukur juga tiap partisipan didalam grup dapat mengekspresikan dirinya dan melakukan sesuatu.
(Hall Richard, (2003), Sage publications,London)

D. Kesimpulan

Dari uraian diatas,saya memfokuskan diri pada satu masalah “tidak mau saling berinteraksi di antara meraka”, jadi yang pertama sekali dilakukan adalah merubah prilaku mereka yang tidak mau berinteraksi dengan sesama,sekiranya perubahan yang diprediksi dapat timbul dari pelaksanaa cooperative learning dapat menyelesaikan masalah lain yang timbul setelahnya.

Disini saya mengambil metode dari 2 jurnal yang hampir sama, yang satu adalah khusus cooperative learning dan community learning, jika dalam cooperative learning kita menemukan metode pendekatan yang harus dilakukan, maka dalam community learning kita menemukan kekuatan dari cooperative learning.


Daftar Pustaka

Nattiv, Amalya., Winitzky, Nancy., & Drickey, Ron, (1991), Using Cooperative Learning with Preservice Elementary and Secondary Education Students, Sage
Publications, London.

Hall, Richard., (2003), Forging a Learning Community, A Pragmatic approach to co-operative Learning, Sage Publications,London.

VandenBos, R.Gary., (2006), Dictionary of Psychology, American Psychological Association, Washington.

No comments:

Post a Comment