Tidak lama wanita cantik di depanku berucap "mba kita punya masalah, saya bingung mba"
"akhir-akhir ini sering sekali kami bertengkar, suami saya tidak paham kalau saya banyak kerjaan di kantor dan menuntut saya untuk harus setiap hari memasak untuknya"
Si bapak menimpali tidak kalah mentereng mirip orang ingin perang "apa saya salah mba?saya suami dan kewajiban istri adalah melayani saya, saya tidak menyuruhnya bekerja di luar rumah, tapi istri saya tetap ngotot ingin bekerja di luar rumah"
Aku masih terdiam dengan fikiranku, fikiranku yang bercampur aduk.tidak lama berselang si ibu kembali menantang "kalo saya ndak kerja mba, kita gak akan bisa liburan ke inggris, terus beli perabot rumah yang mahal dan berkualitas,...gaji suami saya hanya cukup buat kebutuhan sehari-hari mba"
Dengan merah padam si bapak menimpali "gajiku kurang?kurang dimana?setiap bulan semuanya masuk ke rekeningmu, dan aku tidak menikmati sedikitpun supaya kamu tidak merasa kekurangan, lalu maumu apa sekarang"
Aku berdiri mengambilkan dua cangkir teh dingin untuk mereka, niatku supaya hatinya lebih tenang, dan dengan tersenyum aq berkata "bapak dan ibu, boleh kita bicara dengan kepala dingin sekarang?"
Kulihat secercah malu di wajah mereka, tapi dengan itu aku cukup punya celah untuk masuk dan berada di tengah-tengah mereka.
Setelah mereka kudamaikan dengan caraku, aku termenung sendiri dan mencapai analisa problem seperti ini:
1. benarkah gaji suami tidak cukup untuk kebutuhan keluarga,?bukankah Allah sendiri yang menjamin rezki itu. Tergantung kita bagaimana mengelolanya.
2. seorang wanita punya kekuatan tenaga 1/2 dari pria, dan jika wanita sudah bekerja sehari full di luar rumah maka yang tersisa adalah lelah untuk suami dan anak-anaknya.
3. buat wanita pencetak generasi zaman ini "pilihlah pekerjaan yang yang bisa di manage sendiri sehingga energimu masih menumpuk untuk kepentingan keluarga.
4. dulu semasa kuliah s2, ketika kelas sedang membahas beragam kenakalan anak dan remaja muncul satu analisaku, "ternyata sebagian besar kenakalan anak dan remaja bersumber dari ibu yang sibuk bekerja" (aku tidak tahu kebenarannya, ini masih asumsi karena belum pernah kuteliti).
5. ada masa depan cerah menanti seorang wanita, bukan karir yang tinggi selangit melainkan anak yang berkualitas.
6. ada kehangatan batin yang menderu saat memasuki usia perkawinan 20 tahun suami tetap merasa seperti baru menikah, sebagian besar wanita bertanya "mengapa hal itu terjadi?", "karena suami selalu merasa dilayani layaknya pengantin baru". apakah kita para wanita masih punya energi untuk melayani suami dan keluarga sepenuh hati jika 10 jam kita habiskan di luar rumah?(silahkan jawab sendiri)
7. saya selalu menyatakan apresiasi yang sangat tinggi pada wanita yang bersedia tinggal di rumah dan merancang pendidikan untuk keluarganya. Tinggal di rumah bukan berarti hanya mengurus Kasur, Dapur dan Kakus. Tetapi lebih dari itu, seperti kita mengamati biji yang menjadi kecambah, kecambah menjadi tunas, dan tunas menjadi daun, kemudian batang tumbuh besar, dan dari sela-selanya tumbuhlah buah. Buah yang kita perhatikan tiap hari, tiap minggu dan tiap bulan dipastikan lebih enak dari buah yang kita beli di pasar walau dengan kualitas yang sama.
Di tengah secercah harapan
Mendidik dan Mendidik.
Baru baca entry awak.he2. Betul apa awak cakap,
ReplyDeleteBagi Perempuan - Isteri,
"Pekerjaan yang paling banyak mendapat pahala bagi perempuan (isteri, ibu) adalah menjadi suri rumah.. pahalanya melebihi segala pekerjaan di atas dunia." -Ustaz Azhar Idrus (Ulama' Kontemporari Malaysia)
Tak ramai perempuan yang sedar hakikat tu.
Ye, banyak gejala sosial yang berlaku sekarang adalah kerana asuhan keluarga yang tidak menepati suasana (Bi'ah) Baiti Jannati.
Anak-anak sekarang lebih mementingkan kawan-kawan dari keluarga kandung (yang sepatutnya diutamakan).
Sekadar pendapat, betulkan jika saya salah ye kak syazana.
yee betul cakap awak tu, saya sendiri lebih suka di rumah daripada harus bekerja walau pendidikan saya tinggi. karena saya sadar betul manfaat saya di rumah.
ReplyDeletedengan tulisan ini saya nak pesan sebenarnya kepada sahabat wanita muslimah supaya lebih care dengan family agar problem anak dan remaja tidak bertambah banyak.
Terimakasih commentnya kak Robbani.
Maaf silap panggil kak. he2
ReplyDeleteDi Malaysia kak-kakak = saudara perempuan, perempuan lebih dewasa.
Di Indonesia kak-kakak = saudara lelaki kan?
Saya terlupa. Untuk saudara perempuan dipanggil ape di Indonesia?
tak ape, di Indonesia banyak macam panggilan, di tempat saya tinggal (yogyakarta) untuk saudara perempuan dipanggil 'mbak' dan saudara laki-laki 'mas'. bagaimana dengan di negara awak?
ReplyDeletesaya harus panggil awak dengan ape?
Panggil je kak robani macam awk panggil tu. :-)
ReplyDeleteSaya faham, dulu pernah belajar sikit tentang bahasa Indonesia.