Tuesday, November 20, 2012

BerSemI InDah di LOrong RuMah SaKit-Bagian V

Pukul 6 pagi kami sudah meninggalkan rumah sakit layaknya orang yang lari dari kurungan,..karena harus membawa barang-barang bawaan yang tidak lazim untuk orang yang baru pulang piknik.

Papa mas naryo membawa barang paling banyak karena beliau sendirilah yang lelaki diantara kami, sedang mas naryo tidak boleh dibebani oleh apapun, menjaga staminanya supaya tetap sehat sampai rumah.

Seorang penderita leukimia tidak boleh terlalu capek bahkan sekedar berjalan agak jauh saja tidak diperbolehkan, jika dia kelelahan maka daya tahan tubuhnya cepat sekali menurun, biasanya jika lelah mas naryo langsung pingsan, dan hal ini sangat di jaga oleh orang tuanya.

Sesampainya di stasiun mas naryo langsung 'diungsikan' dengan dicarikan tempat duduk oleh papanya, sementara mamanya menyuapkan semacam obat padanya, aq berdiri mematung sebelum mas naryo mengagetkanku,
" ehh,...kok diam aja tho?ayo sini duduk!" sambil mas naryo bergeser sedikit.
aq melempar senyum padanya sembari merebahkan sedikit badanku di tempat duduk.
tak berapa lama kami duduk,..keretapun berderit mendekat, dengan tergopoh-gopoh papa mas naryo menyingkap semua barang yang sudah berada di dekatnya. Kamipun perlahan menaiki kereta.
Aku tidak perlu lari2 untuk mencari tempat duduk, karena tempat dudukku telah disiapkan oleh papanya mas naryo, aq disuruh duduk disamping mas naryo, sedangkan ibuku dan mamanya mas naryo duduk di depan kami, agak risih sih sebenarnya, tapi ya mau apalagi.

Keretapun bergerak meniup peluitnya,....hamparan sawah dan rumah-rumah mungilpun terlihat bergerak dari balik kereta yang kami tumpangi, kami berdua hanya diam, tidak bicara sepatah katapun, hanya sekali waktu mas naryo mengagetkanku dan memberiku sebungkus permen, dan aku menerimanya dengan senyum ditahan.
15 menit kereta berjalan, mamanya mas naryo buka suara
"kalian ini kenapa?kok diam aja?biasanya kalo di rumah sakit nyanyi sama2,..ketawa2" 
kemudian papanya mas naryo menambahkan
"ya iyalah ma, mereka diam aja, lah wong ada emaknya, takut kalo emaknya nguping pembicaraan mereka"
mamanya mas naryo masih ngomel
"ya udah mama tidur aja,.ngobrol sana, kok diam" hardiknya.
ibuku tersenyum dan berkata "mereka malu, masa mau kencan dikawal mama ya mas naryo?"
mas naryo pun menanggapinya dengan lirikan ke arahku.
aku meliriknya balik, lama lirikan kami tahan, seakan mata kamilah berbicara agar tidak terdengar orang lain.

emak2 di depan kami sukses tertidur begitu juga dengan papa mas naryo di sebelah, kami hanya cekikikan melihat mereka mendengkur sahut-sahutan, sambil sesekali mas naryo jahil melempar bantal ke arahku. 

kereta hampir sampai di tempat tujuan kami, mas naryo masih sesekali melirik ku, dan dengan lirih pelah berucap "nanti kamu telpon mas ke telpon rumah ya?"
aku mengangguk mengiyakan.
dia berkata lagi "mas udah gak punya kekuatan untuk naik motor dan main ke rumahmu, mas berharap kamu mau ya main ke rumah mas?"
aku masih mengiyakan kata-katanya, aku tau dia bakal kesepian, dengan keadaannya dia mungkin blm boleh masuk sekolah, masih harus bertahan di rumah untuk menguatkan staminanya.


Deru  mesin  kereta masih terdengar di telingaku
ingataan itu masih jelas bersandar di lubuk hatiku
Selamat Jalan Mas!Semoga Allah selalu merahmati pusaramu.




No comments:

Post a Comment